:: Selamat Datang!

My photo
SD Negeri Kasin saat sedang mengembangkan konsep sekolah yang berbudaya lingkungan ( SBL ).Mohon partisipasinya dalam blog ini.Terima Kasih.

:: Visi SD Negeri Kasin

Mencetak anak didik yang cerdas dan terampil dalam kehidupan berwawasan masa depan dan berkualitas di bidang IPTEK dan IMTAQ

:: Misi SD Negeri Kasin

Meningkatkan mutu pendidikan agama dan budi pekerti, pendidikan akademis, dan non akademis, kritis dan mandiri dalam kelas unggulan maupun binaan serta mengembangkan sekolah yang berwawasan wiyata mandala.

19 March, 2008

.:: Malang Ijo Royo-royo

Gerakan Malang Ijo Royo-Royo yang digagas Wali Kota Malang Peni Suparto terus direspons positif oleh warga masyarakat. Bahkan, warga di luar kota pun ikut menyumbang pohon untuk menyukseskan gerakan itu. Salah satunya adalah UD Tunas Baru Mulya (TBM) yang terletak di Dau, Kabupaten Malang yang menyumbang 1.000 batang pohon. Supandri, pemilik UD TBM, mengaku keikut sertaannya dalam gerakan penghijauan tidak hanya dilakukan di Kota Malang, tapi juga di Kabupaten Malang dan Kota Batu.

Hal yang sama juga dilakukan Hendry, pemilik pertokoan Jalan Sunandar Priyo Utomo, yang juga ikut berpartisipasi dalam gerakan Malang Ijo Royo-Royo. Pengusaha itu menyumbang 100 pohon untuk ikut mewujudkan impian mayoritas warga kota. Yakni menjadikan Malang kembali sejuk, nyaman dan dingin seperti era 1960-an. Untuk itu, Bapak Hendry menghubungi dinas pertamanan dan menyatakan keinginannya turut serta dalam kegiatan penghijauan ini, demikian diterangkan Bapak Mardjono, Kepala Dinas Pertamanan Pemkot Malang kemarin.

Pada bagian lain, Mardjono bertemu dengan PT HM Sampoerna Tbk, Radar Malang, Malang Post, serta lurah dan camat untuk mematangkan rencana pencanangan gerakan yang akan dilaksanakan Walikota Malang. Rapat tersebut memutuskan gerakan Malang Ijo Royo-Royo dimulai dari lima kelurahan di lima kecamatan. Yakni, Kelurahan Arjowinangun, Kedungkandang; Kelurahan Bakalan Krajan, Sukun; Kelurahan Kasin, Klojen; Kelurahan Blimbing, Blimbing; dan Kelurahan Tasikmadu, Lowokwaru.

Di samping itu, pada rapat tersebut PT HM Sampoerna Tbk menyatakan akan menyediakan 6.930 pohon yang akan dibagikan ke-57 kelurahan. Pohon-pohon tersebut akan mulai ditanam pada pencanangan gerakan Malang Ijo Royo-Royo yang rencananya dimulai pada hari Senin, tanggal 19 Juli 2004. Pohon-pohon yang disumbangkan itu sebagai wujud dukungan Sampoerna pada gerakan yang digagas Walikota, demikian terang MSA PT HM Sampoerna Tbk, Tiarso Widodo, kemarin.

Sementara itu, dinas pertamanan merekomendasikan jenis pohon yang akan ditanam pada gerakan Malang Ijo Royo-Royo. Khusus pohon pelindung adalah pohon mahoni, Terbesi (saman) dan pohon flamboyan kuning (Soga). Sedang untuk pohon produktif direkomendasikan pohon Sukun, Kluwih, Kayumanis, Kedongdong, Salam, Juwet, Blimbing, Duren, cerme, Genitu, Rambutan, Mangga, Mlinjo, dan Alpukat.

Sumber: Jawa Pos, Radar Malang

Membuat Sumur Resapan di Pekarangan Rumah

Mengenai air, kota-kota besar di Indonesia telah mengalami dua hal berlawanan, misalnya ; di permukaan tanah, banjir bisa mencapai atap rumah seperti yang terjadi belakangan ini, sementara di bawah tanah, permukaan air tanah (water table) di kota-kota besar terus mengalami penurunan. Untuk mencegahnya dan sekaligus dapat menjaga cadangan air, maka dibuatnya sumur resapan air hujan. Meskipun tidak seluruh masalah dapat diatasi, namun sumur resapan ini secara teoritis akan banyak membantu meringankan kedua masalah tersebut sekaligus.

Bagaimana sebenarnya sumur resapan itu bekerja? Air hujan yang jatuh ke halaman kita setidaknya 85 persen harus bias diserap oleh halaman tersebut agar tidak meluapkan banjir. Halaman rumah kita secara alamiah bias menyerap curahan air hujanyang jatuh, termasuk dari atap rumah, yang mengalir melalui talang. Di sini sumur resapan akan mengurangi sumbangan bencana banjir dengan mengurangi sumbangan run off air hujan.

Dibawah tanah, resapan ini akan masuk merembes lapisan tanah yang disebut sebagai lapisan tidak jenuh, dimana tanah (dari berbagai jenis) masih bias menyerap air, kemudian masuk menembus permukaan tanah (water table) di mana dibawahnya terdapat air tanah (ground water) yang terperangkap di lapisan tanah yang jenuh. Air tanah inilah yang sebenarnya kita konsumsi.

Masuknya air hujan melalui peresapan inilah yang menjaga cadangan air tanah agar tetap bisa dicapai dengan mudah. Ii karena permukaan air tanah memang bisa berubah-ubah, tergantung dari suplai dan eksploitasinya. Dengan teralirkan ke dalam sumur resapan, air hujan yang jatuh di areal rumah kita tidak terbuang percuma ke selokan lalu mengalir ke sungai.

Bagaimana sebaiknya Sumur Resapan di Pekarangan Rumah Kita Dibuat? Satandar Nasional Indonesia (SNI) tentang Tata Cara Perencanaan Sumur Resapan Air Hujan untuk Lahan Pekarangan, menetapkan beberapa persyaratan umum yang harus dipenuhi sebuah sumur resapan yaitu :

1. Sumur resapan harus berada pada lahan yang datar, tidak pada tanah berlereng, curam atau labil.

2. Sumur resapan harus dijauhklan dari tempat penimbunan sampah, jauh dari septic tank (minimum lima meter diukur dari tepi), dan berjarak minimum satu meter dari fondasi bangunan.

3. Penggalian sumur resapan bisa sampai tanah berpasir atau maksimal dua meter di bawah permukaan air tanah. Kedalaman muka air (water table) tanah minimum 1,50 meter pada musim hujan.

4. Struktur tanah harus mempunyai permeabilitas tanah (kemampuan tanah menyerap air) lebih besar atau sama dengan 2,0 cm per jam (artinya, genagan air setinggi 2 cm akan teresap habis dalam 1 jam), dengan tiga klasifikasi, yaitu :

· Permeabilitas sedang, yaitu 2,0-3,6 cm per jam.

· Permeabilitas tanah agak cepat (pasir halus), yaitu 3,6-36 cm per jam.

· Permeabilitas tanah cepat (pasir kasar), yaitu lebih besar dari 36 cm per jam.

Spesifikasi Sumur Resapan

Sumur resapan dapat dibuat oleh tukang pembuat sumur gali berpengalaman dengan memperhatikan persyaratan teknis tersebut dan spesifikasi sebagai berikut :

1. Penutup Sumur

Untuk penutup sumur dapat dipilih beragam bahan diantaranya :

· Pelat beton bertulang tebal 10 cm dicampur dengan satu bagian semen, dua bagian pasir, dan tiga bagian kerikil.

· Pelat beton tidak bertulang tebal 10 cm dengan campuran perbandingan yang sama, berbentuk cubung dan tidak di beri beban di atasnya atau,

· Ferocement (setebal 10 cm).

2. Dinding sumur bagian atas dan bawah

Untuk dinding sumur dapat digunakan bis beton. Dinding sumur bagian atas dapat menggunakan batu bata merah, batako, campuran satu bagian semen, empat bagian pasir, diplester dan di aci semen.

3. Pengisi Sumur

Pengisi sumur dapat berupa batu pecah ukuran 10-20 cm, pecahan bata merah ukuran 5-10 cm, ijuk, serta arang. Pecahan batu tersebut disusun berongga.

4. Saluran air hujan

dapat digunakan pipa PVC berdiameter 110 mm, pipa beton berdiameter 200 mm, dan pipa beton setengah lingkaran berdiameter 200 mm.

Satu hal yang penting, setelah sumur resapan dibuat, jangan lupakan perawatannya. Cukup dengan memeriksa sumur resapan setiap menjelang musim hujan atau, paling tidak, tiga tahun sekali.

Nah, sederhana bukan? Dengan membuat sumur resapan di pekarangan masing-masing, kita bias mencegah banjir sekaligus ,enjaga cadangan air.

Sumber disarikan dari tulisan Saptono Istiawan IAI, Harian Kompas 16 Pebruari 2007

11 March, 2008

Sekolah Berbudaya Lingkungan ( SBL )


Dalam rangka menciptakan kondisi dan situasi sekolah yang memungkinkan siswa sekolah dasar dapat mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien, maka seluruh sumber daya pendidikan yang ada perlu dikelola dan didayagunakan seoptimal-optimalnya. Sumberdaya pendidikan berupa manusia, dana, sarana prasarana, dan lain lainya harus diorganisir, diinteraksi, dikoordinasi, dan diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan. Hal ini dapat dicapai apabila Kepala Sekolah berkemauan dan mampu menjalankan fungsi manajemen pendidikan dengan baik.

Manajemen pendidikan dapat diartikan sebagai segala yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan sekolah. Tanpa manajemen yang baik tidak mungkin tujuan pendidikan ataupun tujuan sekolah dapat diwujudkan secara optimal, efektif, dan efisien.

Salah satu komponen sekolah yang tidak boleh dipandang ringan yang harus dikelola secara baik dan sungguh-sungguh adalah sarana dan prasarana. Bagaimana mendayagunakan sarana dan prasarana yang ada dalam kondisi dan situasi masing-masing sekolah atau bahkan dapat ditingkatkan atau dapat dikembangkan dengan kreatifitas warga sekolah utamanya Kepala sekolah selaku pengelola sekolah, dengan dana maupun faktor pendukung yang lain.

Sekolah sebagai tempat proses pembelajaran diharapkan merupakan tempat yang sangat dibutuhkan oleh warga belajar maupun pengajar atau warga sekolah umumnya, merupakan tempat yang menyenangkan, memicu kerinduan untuk selalu datang dan berada di tempat tersebut. Oleh karenanya sangat diperlukan adanya penataan fisik sekolah, sarana prasarana yang dapat memberikan dampak positif warga sekolah, ramah anak, dan ramah lingkungan.

TUJUAN SEKOLAH BERBUDAYA LINGKUNGAN

Program Sekolah Berbudaya Lingkungan (SBL) bertujuan untuk mewujudkan sekolah sebagai wiyata mandala yang berorientasi pada budaya setempat dan lingkungan yang indah, nyaman, bersih, humanis, dinamis, ramah anak, ramah lingkungan yang disetiap sudut menyenangkan sehingga menjadi daya dorong untuk meningkatkan kegiatan hasil belajar mengajar yang pada akhirnya dapat meningkatkan mutu pendidikan secara maksimal, menghasilkan anak didik atau output yang diharapkan sesuai dengan visi, misi dan tujuan sekolah.

Tujuan SBL yang lain adalah terciptanya situasi dan kondisi belajar yang mantap, menjadikan sekolah adalah tempat yang sangat dibutuhkan dan dirindukan oleh semua warga sekolah karena adanya penataan yang menunjang proses pembelajaran. Hal ini dapat dilihat misalnya pada penataan ruang-ruang belajar, ruang-ruang fasilitas yang lain, penataan taman atau potisasi tidak saja sebagai pengindahan lingkungan belajar, namun juga sebagai sumber belajar atau laboratorium luar.